How Do You Feel?

 


Assalaamu'alaikum~

Alhamdulillah punya waktu cukup luang untuk kembali mencurahkan isi hati di blog ini hihi. Rasanya lebih senang dan lega kalau udah cerita walaupun di sini dan tentu tanpa respon 😅 it's okay karena niat membuat blog ini dari dulu berubah-ubah sih, semoga ada yang merasa terbantu dan bernasib sama sehingga tidak merasa sendirian merasakan hal yang mengganjal hati 😊 saking lamanya gak nulis baru tau ternyata ada bagian insert emoji

Tulisan kali ini sebenernya untuk melanjutkan isi hati di postingan sebelumnya di bulan yang sama. Setelah tau aku gak lulus, jujur aku merasa sedih, sangat sedih. Walaupun orang tuaku tetap memberikan semangat, tapi aku tetap merasa sedih dan bersalah karena belum bisa membanggakan orang tua. Aku yakin semua orang pasti punya cita-cita untuk membahagiakan orang tuanya, tidak ingin menjadi beban bagi mereka. Aku yakin kita punya cita-cita yang sama 😊 Saat itu aku juga merasa sedih dan terharu membaca chat dari teman-temanku yang tetap memberikanku semangat. Hingga ada satu chat dari temanku yang membuatku sesak terharu dan hampir meneteskan air mata di dalam mobil, tetapi aku tahan karena malu nangis di depan orang tua. Tetapi air mata itu akhirnya jatuh juga saat aku melakukan shalat Ashar. Air mata yang sudah aku tahan. Dalam do'a aku menangis tertahan mencurahkan yang aku rasakan hari itu. Saat itu kondisiku juga kurang baik karena sebelum tes aku sengaja skip makan siang agar tidak sakit perut

Saat tulisan ini dibuat, seluruh pengumuman kelulusan sudah diumumkan, dan hampir semua teman seperjuanganku lulus semua tahun ini. Teman satu kuliahanku yang Alhamdulillah juga sudah lulus, teman berbagi rasa dan semangat juga sudah lulus, salah satu sahabatku juga sudah lulus, dan juga adik sepupuku, kami saling menyemangati juga sudah lulus. Mereka yang lulus ada yang sudah dua kali mencoba dan bahkan satu kali coba langsung lulus. Ada di satu titik aku berpikir, "Yaa Allah kenapa aku belum diluluskan?" Aku ngerasa berdosa berpikir seperti itu, padahal sudah tahu apapun ketetapan Allah itu adalah yang terbaik. Dengan pertanyaan bodoh itu selalu aku jawab sendiri "pasti Allah mau kasih hal yang lebih baik dari ini" "aku yakin mungkin bukan sekarang waktu yang terbaik menurut Allah" "Allah lebih tau mungkin kemampuanku belum cukup dan aku belum siap". Atau bisa jadi hal-hal ini tidak diberikan Allah karena dosaku yang sangat banyak, Allah ingin aku banyak berdo'a dengan air mata yang berlinang memohon ampun. Aku yakin ini karena Allah masih sangat sayang padaku sehingga Allah ingin melihatku berdo'a dan beribadah dengan linangan air mata. Semua kemungkinan terbaik dan yakin kepada Allah telah aku pikirkan. 

Tapi tetap saja, kesedihan ini belum pergi sepenuhnya. Ikhlas itu berat, sangat berat. Hanya dengan melihat update-an status dari mereka yang dinyatakan lulus saja membuatku merasa bersedih, tetapi juga bersyukur apa yang mereka inginkan bisa didapat. Aku juga terharu dengan beberapa temanku yang mengirimkan pesan semangat dan berdo'a yang terbaik untukku. Rasa ini campur aduk. Aku sangat senang mereka lulus, karena aku tau perjuangan untuk mendapatkan itu sulit, tapi aku juga sedih di waktu yang bersamaan, karena aku belum lulus. Sebenarnya aku sedih bukan hanya karena aku tidak lulus, tapi ada banyak kekhawatiran dan beban yang aku rasakan, yang gak bisa aku sampaikan. 

Jadilah ketika tahu aku tidak lulus, aku mencurahkan rasa kekecewaan ini dengan menjahit. Karena memang dalam akhir bulan ini kemarin ada pesta pernikahan temanku. Dalam satu hari atau lebih tepat setengah hari baju yang aku jahit itu selesai. Sebenarnya aku merasa kaget, bagaimana bisa aku bisa menjahit baju dalam satu hari itu? Padahal itu pertama kalinya aku membuat baju yang benar-benar selesai dan bisa digunakan. Tetapi mungkin karena aku terlalu memforsir tubuh untuk menjahit baju itu, jadilah keesokan harinya kakiku sakit karena kaku dan kram hampir seharian menjahit. Tapi, aku cukup lega dan senang karena rasa kekecewaan ku lampiaskan dengan hal yang bermanfaat dan berguna. Ya walau harus mengorbankan anggota badan yang sakit sedikit. Menjahit itu butuh mood. Aku menjahit karena dua mood, pertama karena aku lagi bersedih, yang kedua karena aku memang lagi senang dan ingin sekali menjahit. 

Aku menanyakan kepada temanku apakah rasa sedih yang aku rasakan ini wajar dan bukan hal yang berlebihan? Dia jawab itu adalah hal yang wajar, dan sangat wajar. Siapa yang tidak sedih ketika kamu sudah mempersiapkan hal ini dari jauh-jauh hari dan mengorbankan beberapa hal untuk menggapai cita-cita ini? Aku mempersiapkannya sejak awal tahun ini, berusaha belajar dengan giat di sela-sela kuliah dan kerja freelance hingga aku keluar dari kerja karena merasa tidak sanggup. Aku terus belajar sampai beberapa jam sebelum tes. Tapi Qadarullah Allah belum takdirkan padaku. Banyak yang bilang "usaha tidak akan mengkhianati hasil", aku sama sekali tidak percaya hal itu. Hal yang benar adalah "apapun yang Allah takdirkan untuk kita pasti akan menjadi milik kita, tapi apapun yang belum atau tidak Allah takdirkan untuk kita pasti tidak akan menjadi milik kita". Menurutku perjuangan atau usaha yang aku lakukan sudah cukup maksimal, tetapi jika tidak Allah takdirkan, tetap saja usaha yang aku lakukan itu bukan segalanya. Karena segalanya itu adalah apa yang Allah takdirkan pada kita. Tapi bukan juga usaha yang aku atau kita lakukan menjadi sia-sia, gak, gak akan sia-sia. Kita bisa ambil sisi positifnya, seperti wawasan bertambah, atau banyak hal yang bisa kita ketahui dari usaha yang kita lakukan. Semuanya gak ada yang sia-sia, yakin itu. Inti dari semua ini adalah kita yakin sama semua ketetapan Allah. Sabar sama semua yang terjadi. Sabar itu luas dan gak ada batasnya, kalau masih ada yang bilang sabar itu ada batasnya, namanya itu tidak sabaran. Karena sejatinya sabar itu tidak ada batasnya. Aku tau sabar itu sulit, tapi jangan lupa cukup Allah tempat kita berharap dan selalu minta bantuan ke Allah. Jangan merasa diri kita pasti bisa, gak, kita itu gak ada apa-apanya tanpa pertolongan dari Allah. Makanya dalam do'a jangan lupa selalu minta pertolongan Allah untuk apapun yang kita lakukan dan alami. Jangan berpikir bahwa apa yang kita dapatkan hasil dari kerja keras atau "usaha tidak mengkhianati hasil" itu, tapi apa yang kita dapatkan itu karena Allah yang takdirkan, dan Allah yang berikan kepada kita. 

Dengan akhir tahun ini, aku ingin kesedihan ini tidak akan berlarut lagi dan bisa ikhlas menerima semuanya. Semoga Allah menolong dan membantu usahaku ini. Tahun ini penuh dengan banyak kenangan, senang maupun sedih. Semoga tahun depan menjadi lebih baik dan diri ini juga bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

Aamiin Yaa Rabbal'alamiin

Yuk bisa yuk ! Semangat !

Komentar