Belum Allah Takdirkan

 


Assalaamu'alaikum~

Sudah berapa lama ya aku gak update di blog? kayaknya udah lama sekali hehe. Menulis itu memang gak gampang ya, butuh mood dan waktu yang luang untuk merealisasikannya. Alhamdulillah sekarang kesampaian lagi untuk nulis. Tulisan kali ini mungkin masih berhubungan dengan tema "berjuang". Berjuang terus ya... ya memang karena hidup ini memang selalu harus diperjuangkan. 

Aku yakin tiap orang pasti punya tujuan yang ingin dicapai, sama aku juga punya. Mungkin sebagian orang bakalan bilang tujuan aku ini mainstream sekali dan ya gak ada spesialnya. Tapi bagi aku ini sangat penting karena menyangkut harapan kedua orang tua.

Dari kecil dulu sampai sekarang selalu ditanya "cita-citanya mau jadi apa?" Dan aku selalu kasih jawaban yang berbeda-beda. Mulai dari dokter, guru, dosen, dan sekarang aku punya cita-cita untuk jadi ASN. Butuh perjuangan untuk mendapatkan itu. Mungkin masih banyak orang-orang yang mengira untuk menjadi ASN bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan "menyuap" orang-orang dalam dan memainkan hasil yang ada. Tetapi untuk sekarang itu sangat sulit bahkan tidak bisa lagi dilakukan karena pemerintah sudah memperketat dan memberikan transparansi terhadap seleksi yang dilakukan. Sehingga memang yang lulus adalah orang-orang yang terpilih dan mampu melewati seleksi yang ada.

Itu sedikit gambaran, sekarang aku mau cerita pertama kali aku ikut seleksi. 

Aku pertama kali ikut seleksi itu di tahun 2019 karena di tahun itu juga aku lulus kuliah dan melihat orang-orang antusias mengenai seleksi ini. Aku pun memberitahu orang tua dan berkeinginan untuk ikut seleksi ini. Tentu saja orangtuaku sangat menyetujui dan berharap aku bisa lulus sleksi. Jadilah saat itu aku mencari informasi mengenai bagaimana cara untuk mendaftar dan mempersiapkan berkas untuk seleksi administrasi. Ketika itu aku tidak banyak tahu dan tidak ada tempat untuk bertanya-tanya mengenai seleksi ini, jadi aku memperbanyak baca informasi yang ada di internet dan di websiter resmi. Aku mendaftar di Kota Pariaman dengen formasi verifikator keuangan. Pada saat itu aku sudah bekerja di salah satu perusahaan di kotaku, karena memiliki jam kerja yang cukup panjang dan sering pulang malam, aku tidak bisa terlalu maksimal untuk belajar mempersiapkan seleksi awal yaitu SKD. Buku berisi materi dan contoh soal seleksi yang sudah dibeli pun hanya beberapa aku baca dan kerjakan.

Aku ujian SKD di UPI Padang sekitar jam setengah 9 aku jalan dari rumah dan saat tiba di sana tidak beberapa lama aku dan peserta lainnya disuruh untuk berkumpul dan berbaris. Pada saat itu aku tidak mengetahui bahwasanya peserta harus datang lebih kurang satu setengah jam sebelum ujian dimulai. Aku sangat bersyukur karena tidak terlambat datang ujian. Setelah serangkaian verifikasi data, akhirnya aku mengikuti ujian dan selesai di siang hari. Di luar gedung ujian disediakan pos dengan TV di sana yang menampilkan hasil livescore peserta ujian. Ketika aku selesai ujian dan keluar dari gedung, kedua orangtuaku sudah mengetahui nilaiku. Saat itu aku sebenarnya agak kecewa dengan nilai yang kudapat. Tetapi hal itu terjadi karena memang aku yang tidak belajar dengan sungguh-sungguh untuk seleksi ini dan hanya dengan niat coba-coba saja tidak berharap untuk lulus. Tetapi aku tetap berdo'a agar bisa masuk perankingan untuk seleksi selanjutnya.

Ketika hasil pengumuman seleksi SKD ini diumumkan di website pemerintah daerah masing-masing, aku langsung mengunduh dan melihat hasilnya. Saat aku mencari namaku, ternyata belum diizinkan Allah untuk mengikuti seleksi selanjutnya. Aku hanya lulus passing grade saat itu dan tidak masuk perankingan, karena yang diambil hanya 3 orang dan aku urutan ke 11, cukup jauh. Kecewa ada, tetapi tidak terlalu karena memang ini kesalahan dari diriku sendiri yang tidak belajar dengan sungguh-sungguh dan niatku juga hanya untuk coba-coba saja. Setelah itu, aku tetap melanjutkan kegiatan seperti biasa dan mempertimbangkan untuk melanjutkan kuliah atau tetap bekerja

Itu pengalamanku saat pertama kali mencoba mengikuti seleksi ASN dan belum Allah takdirkan untuk menjadikanku seorang ASN. Dari sana aku belajar, niatku untuk mengikuti seleksi ini hana coba-coba. Serta aku tidak terlalu serius dalam menggapai apa yang aku mau. Terlepas dari itu semua, yang paling penting adalah ini semua takdir Allah, Allah tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya dan kita sendiri bahkan tidak tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Tetap semangat pantang menyerah~


Komentar

Posting Komentar

Bagikan tanggapanmu yuk~